FORUM UPP-ROHUL
Most Welcome All,

=SELAMAT DATANG DI UPP-ROHUL COMMUNITY=
=SILAKAN REGISTER BAGI YANG BELUM BISA LOG-IN=
=KAMI SENANG SEKALI JIKA ANDA MAU BERBAGI ILMU DAN PENGALAMAN BERSAMA KAMI DISINI=


=SALAM HANGAT=



BestRegard

Arie Bonuo™


AJANG BERBAGI DAN DISKUSI MAHASISWA UPP-ROKAN HULU
 
IndeksCalendarPencarianAnggotaPendaftaranLogin
"REMEMBER" JANGAN PERNAH ANDA BERNIAT KULIAH DI UPP-ROHUL, KALAU HANYA UNTUK MENCARI GELAR, TAPI BERNIATLAH, KALAU KULIAH DI UPP-ROHUL UNTUK MENCARI ILMU YANG BISA ANDA KEMBANGKAN KE ANAK CUCU ANDA KELAK " : SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERGABUNG DI FORUM UPP-ROHUL COMMUNITY : KAMI BAHAGIA SEKALI BILA ANDA MAU BERBAGI ILMU DAN PENGALAMAN ANDA BERSAMA KAMI : HARAPAN KITA BERSAMA, SEMOGA FORUM INI BISA BERKEMBANG DAN MAJU SELAMANYA " BestRegard " ARIE BONUO™
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search

My Great Web page
SELAMAT DATANG Tamu, SELAMAT BERGABUNG DI UPP-ROHUL COMMUNITY

Latest Topics
Topic
Written by
DESKRIPSI TINGKAT KESULITAN SOAL ( C1, C2, C3, C4, C5, C6)
Download Quran in Word 2.2 untuk Ms Office Word 2003 - 2013
BAB 7 TUMBUHAN
BAB 6 FUNGI (JAMUR)
BAB 5 PROTISTA
BAB 4 MONERA
BAB 3 VIRUS
BAB II KEANEKARAGAMAN HAYATI
BAB I MENGENAL BIOLOGI SEBAGAI ILMU
Sunat untuk Kaum Hawa Menurut Hukum Islam










ARIE BONUO™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MASTER OF SCIENCE™

Share | 
 

 Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ARIE BONUO™
®Site Owner UPP-ROHUL Community®




PostSubyek: Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism   Fri Jul 08, 2011 1:50 pm

Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism



Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang biologi molekuler,
aspek-aspek ilmu genetika juga mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Aspek yang dimaksud masuk ke dalam ranah ilmu genetika yaitu classical genetics, molecular genetics dan population genetics. Quantitative genetics
yang membahas secara mendalam berbagai macam sifat kuantitatif seperti
tinggi badan, berat badan, IQ, kepekaan terhadap penyakit, dan
sebagainya masuk ke dalam ilmu population genetics. Ilmu population genetics
pula yang mendukung teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin
150 tahun lalu. Ilmu ini menggunakan berbagai macam pendekatan statistik
untuk membuktikan, menjelaskan atau mendeteksi adanya perubahan
organisme dalam lingkungan oleh sebab adanya dorongan evolusi (evolutionary force). Dari sinilah lahir istilah Neo-Darwinism.

Dalam Neo-Darwinism, evolusi
dideskripsikan sebagai perubahan frekuensi alel yang ada dalam populasi
di tempat dan waktu tertentu oleh sebab adanya evolutionary force. Evolutionary force yang dimaksud di sini terdiri dari (1) Mutation, sebagai the building block of evolution, ia cenderung meningkatkan variasi genetis atau frekuensi alel yang menjadi subyek seleksi alam; (2) Natural Selection, terdiri dari directional selection, stabilizing selection dan disruptive selection; (3) random genetic drift, yang cenderung menekan variasi genetis; (4) Non-random mating yang meningkatkan homozigositas fenotip tanpa mempengaruhi frekuensi alel; (5) migration, yang mendorong kesamaan frekensi alel antar populasi yang berbeda.

Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika kita mengenal
bagaimana cara menghitung frekuensi alel dalam suatu populasi. Misalkan
dalam suatu populasi, terdapat 2 alel dalam satu lokus, yaitu A1 dan A2, maka dalam populasi tersebut hanya ada variasi genotip individu sebagai berikut A1A1, A1A2, dan A2A2. Jika dalam populasi tersebut diketahui berjumlah 500 orang dan individu dengan genotip A1A1 = 245, A1A2 = 150 dan A2A2 = 105, maka frekuensi masing-masing alel dalam gene pool, yaitu A1 dan A2 bisa dihitung sebagai berikut :

Frekuensi A1= [(2 x 245) + (1 x 150)] / 1000 = 0,64

Frekuensi A2= [(2 x 105) + (1 x 150)] / 1000 = 0,36

Di sini 1000 artinya dalam gene pool yang terdiri dari 500 individu terdapat 1000 alel sebab masing-masing individu memiliki 2 alel atau diploid. Pada individu A1A1 terdapat dua alel A1, sedangkan dalam individu A1A2 terdapat satu alel A1.

Langkah selanjutnya adalah mengetahui apakah individu dengn alel
tertentu memiliki kemampuan adaptasi lebih unggul dibandingkan alel lain
yang dinyatakan dengan fitness, kita harus menghitung dulu nilai fecundity dan survival
dari keturunan yang dihasilkan oleh individu dengan genotipe tertentu.
Fecundity adalah kemampuan organisme untuk mengasilkan keturunan atau
dengan kata lain rata-rata keturunan yang dilahirkan oleh organisme
dengan genotpe tertentu dalam populasi bersangkutan. Survival adalah
kemampuan keturunan tersebut untuk tetap hidup sampai masa reproduksi.
Produk antara fecundity dan survival adalah fitness. Kita ambil contoh pada wolf spider betina yang menghasilkan keturunan seperti pada tabel dibawah ini.



Genotipe fecundity Survival fitness relative fitness

A1A1 230 0,0200 4,6 1.00

A1A2 280 0,0150 4,2 0,91

A2A2 190 0,0100 1,9 0,41



Pada tabel di atas tampak bahwa individu homozygote A1
memiliki fitnes paling besar walaupun fecundity nya sedikit lebih rendah
daripada heterozygote tapi memiliki survival yang lebih tinggi. Konsep relative fitness lebih sering dipakai dalam population genetics dibandingkan dengan absolute fitness. Dalam relative fitness,
individu dengan genotipe tertentu yang memiliki fitness tertinggi
dianggap memiliki fitness sebesar 1, sedangkan yang lainnya kurang dari 1
seperti tampak pada kolom terakhir tabel di atas. Dengan kata lain
individu dengan kemampuan adaptasi paling tinggi memiliki fitness
sebesar 1,00.

Dari penjelasan di atas tampak adanya proses seleksi terhadap individu
dengan genotipe tertentu, yang dalam hal ini yaitu seleksi terhadap alel
A2. Besarnya seleksi yang dialami oleh individu dengan genotip tertentu dinyatakan dengan bilangan coefficient of selection. Hubungan antara fitness dengan coefficient of selection (s) dapat dinyatakan sebagai berikut :

coefficient of selecion (s) = 1 – fitness (F)

Dari contoh dalam tabel di atas, dapat dihitung coefficient of selection (s) nya, yaitu sebesar 0,59.

Dalam lingkungan yang sesungguhnya, alel tertentu bisa mempengaruhi
kemampuan beradaptasi (fitness) individu tidak selalu secara langsung,
artinya, fenotip yang dihasilkan oleh genetotip tertentu tidak secara
langsung menentukan kemampuan hidupnya, tapi lebih menentukan kemampuan
hidup individu tersebut melalui melalui interaksinya dengan lingkungan.
Misalkan kemampuannya berkamuflase suatu organisme sangat bergantung
pada genotipe yang mengkode warna pigmen dan kondisi lingkungan di mana
organisme itu hidup. Semakin baik kemampuan berkamulflase maka semakin
tinggi pula ia terhindarkan dari predator, akibatnya, alel yang mengkode
sifat terkait lebih banyak diturunkan pada generasi berikut daripada
alel lain. Contoh mekanisme seleks seperti ini tampak pada salah satu
jenis kupu Beston betularia di Inggris (lihat gambar). Sebelum era
industrialisasi di Inggris, banyak pohon masih berwarna terang, sehingga
kupu berwarna terang lebih terkamuflase dan terhindarkan dari predator
daripada kupu berwarna gelap. Di sini alel pengkode pigmen gelap dominan
terhadap alel pengkode pigmen terang. Namun, saat era industrialisasi,
dimana banyak sekali polusi udara yang membuat warna kulit pohon menjadi
lebih gelap, kupu dengan warna gelap lebih adapted dibandingkan dengan
kupu berwarna terang, akibatnya frekuensi alel untuk mengkode pigmen
warna gelap lebih banyak atau meningkat.

Efek Seleksi Alam pada Frekuensi Alel di Generasi Berikut



Seperti yang telah disebutkan di atas, seleksi alam dapat meningkatkan
frekuensi alel yang menghasilkan fenotipe dengan fitness tertinggi.
Perhitungan mengenai efek seleksi alam ini kita ambil contoh yang sama
pada pada tabel di atas, namun kali ini individu heterozygote memiliki relative fitness sama dengan individu homozygote yaitu 1,00 sebagai berikut:



Genotipe frekuensi genotipe P relative fitness kontribusi frekuensi genotipe P’

A1A1 (0,64)2= 0,41 1.00 0,41 0,41/0,92 = 0,44

A1A2 2 (0,36)(0,64)=0,46 1,00 0,46 0,46/0,92 = 0,50

A2A2 (0,36)2 = 0,13 0,41 0,05 0,05/0,92 = 0,06

total = 1 total = 0,92 total = 1



Perhitungan frekuensi P di atas berdasarkan hukum Hardy-Weinberg. Dari
perhitungan di atas tampak bahwa total frekuensi alel pada generasi
berikut (P’) mengceil sebab adanya seleksi pada alel tertentu, dalam hal
ini alel A2 dalam genotip homozygote A2. Dalam generasi berikutnya, frekuensi genotipe A1A1 menjadi 0,44, genotipe A1A2 menjadi 0,50, dan genotipe A2A2 menjadi 0,06. Frekuensi genotipe A2A2 turun dari 0,13 menjadi 0,06, yaitu tinggal separuhnya! Dari perhitungan ini dapat diketahui bahwa frekuensi alel A2 pada generasi berikut menjadi :

(0,06) + (0,5 x 0,50) = 0,31

Yakni mengalami pernurunan sebesar 0,36-0,31 = 0,05 atau sekitar 5%. Jika frekuensi A1 dinyatakan sebagai p dan frekuensi A2 dinyatakan sebagai q, maka perbedaan frekuensi A2 antara
generasi parental dan f1 dinyatakan dalam Δq = -0,05. Sedangkan
frekuensi alel A1, dengan cara perhitungan yang sama dengan alel A2 mengalami peningkatan sebesar 0,05 atau 5%.

Contoh di atas menggambarkan jika dominasi (dominance) A1 adalah complete dominance, artinya, fenotipe dari heterozygote memiliki sifat yang sama persis dengan homozygote A1 sehingga seleksi alam tidak bisa “mendeteksi” adanya alel A2 dalam keadaan heterozygote.
Hal ini tidak selalu benar pada dunia nyata. Sebab kadangkala, ada alel
yang tidak menunjukkan sifat demikian dalam hal dominasi, tapi memiliki
derajat dominasi sampai nilai tertentu yang dinayatakan dalam level of dominance (h). Alel dengan sifat demikian dikatakan memiliki efek additif (additive effects). Lihat contoh pada tabel berikut ini :

Genotipe frekuensi genotipe P relative fitness kontribusi frekuensi genotipe P’

A1A1 (0,64)2= 0,41 1.00 0,41 0,41/0,83 = 0,49

A1A2 2 (0,36)(0,64)=0,46 0,80 0,37 0,37/0,83 = 0,44

A2A2 (0,36)2 = 0,13 0,41 0,05 0,05/0,83 = 0,06

total = 1 total = 0,83 total = 1


Dengan data di atas, alel A2 mengalami penurunan sebesar 8%, lebih besar daripada tabel di atas. Dari sini tampak bahwa jika level of dominance menurun, maka alel A2 dalam keadaan heterozygote akan “terdeteksi” oleh seleksi alam.

Penejelasan ini hanyalah sepotong dari sekian banyak perhitungan dalam population genetics yang tentu saja tidak bisa diceritakan panjang lebar dalam kesempatan ini. Penjelasan ini belum mencakup penjelasan peran population genetics dalam menjelaskan seleksi alam yang terjadi pada quantitative traits sebagai dasar evolusi organisme yang jauh lebih kompleks.



Referensi :



Hyde, D. 2009. Population Genetics. In: Hyde, D. (Ed), Introduction to Genetics Principles, 1st Edition, (p. 790-811). New York: McGraw-Hill.

========================================================================================
BONUO CELL ELECTRONIC
http://bonuocellgsm.blogspot.com
LOKASI : PASIR PENGARAYAN - ROKAN HULU
Hp : 081276302200
Kembali Ke Atas Go down
http://flasher.home-forum.com
 

Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» fungsi oli dalam paketan pembersih filter replacement
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» Kegunaan RPM..
» Di jual rumah di Bandung - view alam pegunungan
» [ASK] Fungsi "Lowering Kit" Ninja 250r

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FORUM UPP-ROHUL :: === KUMPULAN MATERI PERKULIAHAN === :: BIOLOGI :: Biologi Umum-