FORUM UPP-ROHUL
Most Welcome All,

=SELAMAT DATANG DI UPP-ROHUL COMMUNITY=
=SILAKAN REGISTER BAGI YANG BELUM BISA LOG-IN=
=KAMI SENANG SEKALI JIKA ANDA MAU BERBAGI ILMU DAN PENGALAMAN BERSAMA KAMI DISINI=


=SALAM HANGAT=



BestRegard

Arie Bonuo™


AJANG BERBAGI DAN DISKUSI MAHASISWA UPP-ROKAN HULU
 
IndeksCalendarPencarianAnggotaPendaftaranLogin
"REMEMBER" JANGAN PERNAH ANDA BERNIAT KULIAH DI UPP-ROHUL, KALAU HANYA UNTUK MENCARI GELAR, TAPI BERNIATLAH, KALAU KULIAH DI UPP-ROHUL UNTUK MENCARI ILMU YANG BISA ANDA KEMBANGKAN KE ANAK CUCU ANDA KELAK " : SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERGABUNG DI FORUM UPP-ROHUL COMMUNITY : KAMI BAHAGIA SEKALI BILA ANDA MAU BERBAGI ILMU DAN PENGALAMAN ANDA BERSAMA KAMI : HARAPAN KITA BERSAMA, SEMOGA FORUM INI BISA BERKEMBANG DAN MAJU SELAMANYA " BestRegard " ARIE BONUO™
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search

My Great Web page
SELAMAT DATANG Tamu, SELAMAT BERGABUNG DI UPP-ROHUL COMMUNITY

Latest Topics
Topic
Written by
DESKRIPSI TINGKAT KESULITAN SOAL ( C1, C2, C3, C4, C5, C6)
Download Quran in Word 2.2 untuk Ms Office Word 2003 - 2013
BAB 7 TUMBUHAN
BAB 6 FUNGI (JAMUR)
BAB 5 PROTISTA
BAB 4 MONERA
BAB 3 VIRUS
BAB II KEANEKARAGAMAN HAYATI
BAB I MENGENAL BIOLOGI SEBAGAI ILMU
Sunat untuk Kaum Hawa Menurut Hukum Islam










ARIE BONUO™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MUHAMMAD FATIH AL-AZHAR™
MASTER OF SCIENCE™

Share | 
 

 PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA TUMBUHAN

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
budiman
™Komting UPP Community™




PostSubyek: PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA TUMBUHAN   Sun May 20, 2012 3:29 am

PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA TUMBUHAN



Pengendalian hayati khususnya pada
penyakit tumbuhan dengan menggunakan mikroorganisme telah dimulai sejak
lebih dari 70 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1920 sampai 1930
ketika pertama kali diperkenalkan antibiotik yang dihasilkan
mikroorganisme tanah, tetapi beberapa percobaan belum berhasil sampai
penelitian mengenai pengendalian hayati terhenti selama kurang lebih 20
tahun. Perhatian pakar penyakit tumbuhan terhadap metoda pengendalian
hayati bangkit kembali ketika di Barkley pada tahun 1963 diadakan
simposium internasional pengendalian hayati dengan tema “Ecology of
Soilborne Plant Pathogen-Prelude to Biological Control”, Buku pertama
tentang pengendalian hayati terbit pada tahun 1974 oleh Baker dan Cook
dengan judul “Biological Control of Plant Pathogens”, satu panitia untuk
pengendalian hayati pada American Phytopathological Society kemudian
didirikan pada tahun 1976. Sekarang ini sudah menjadi satu pengetahuan
bahwa pengendalian hayati akan memainkan peranan penting dalam pertanian
pada masa akan datang. ini terutama disebabkan kekhawatiran terhadap
bahaya penggunaan bahan kimia sebagai pestisida. Sejumlah mikroba telah
dilaporkan dalam berbagai penelitian efektif sebagai agen pengendalian
hayati hama dan penyakit tumbuhan diantaranya adalah dari genus-genus


  • Agrobacterium,Kelompok
    bakteri dari Genus Agrobacterium dan Pseudomonas banyak dimanfaatkan
    sebagai agen pengendalian biologi. Tidak semua spesies dari genus
    Agrobacterium merupakan bakteri patogen. Banyak strain yang diisolasi
    dari dalam tanah diketahui merupakan strain antagonis yang dapat
    menghambat pertumbuhan strain patogen. Kedua strain ini dapat diketahui
    apakah bersifat patogen atau antagonis dengan melakukan uji
    patogenisitas pada tanaman inang. Di dalam tanah di sekeliling
    perakaran tanaman yang sakit, perbandingan kedua strain ini sangat
    tinggi tetapi pada perakaran tanaman yang sehat perbandinganya rendah
    sekali (Skinner cit. Hinggins, 1985). Bakteri Agrobacterium radiobacter
    strain K- 84 dapat menghasilkan senyawa antibiotik Agrosin 84 yang mampu
    menekan pertumbuhan bakteri patogen Agrobacterium tumefacient penyebab
    penyakit Crown Gall pada tanaman persik dan mawar. Strain K–84 ini
    mengandung plasmid kecil yang menyandikan produksi agrosin dan plasmid
    besar yang menyandikan penggunaan nonpalin yang merupakan asam amino
    tipe opin yang hanya terdapat dalam jaringan Crown Gall. Dari percobaan
    laboratorium didapatkan bahwa bakteri patogen yang resisten terhadap
    agrosin ini dapat muncul karena adanya konjugasi antara strain–84 dan
    strain patogen. Selama konjugasi, kedua plasmid dari strain–84
    berpindah secara bebas, sedangkan plasmid Ti pada patogen, pada sel
    penerima dapat muncul atau tidak.
  • Ampelomyces, untuk mengendalikan
    embun tepung pada berbagai buah-buahan dan sayuran dan sangat baik
    digunakan dalam program pengendalian penyakit secara terpadu.
  • Arthrobotrys,Jamur Arthrobotrys sp untuk mengendalikan Nematoda akar kopi
  • Bacillus thuringiensis,digunakan
    sebagai pengendali hama karena sifatnya yang spesifik terhadap hama dan
    tidak berbahaya bagi manusia, ikan, burung, anijng, babi, tikus, dll
    atau hama-hama tanaman lainnya, juga tidak bersifat karsinogenik.
    Kemampuannya sebagai pengendali hama disebabkan oleh kristal protein
    yang diproduksinya.
  • Fusarium Oxysporum, merupakan salah satu strain hasil mutasi alamiah dari fusarim yang digunakan untuk mengendalikan penyakit karena fusarium.
  • Gliocladium sp, Gliocladium Catenulatum, digunakan sebagai fungisida untuk mengendalikan penyakit pada daun untuk perlindungan pasca panen. G. Virens dimanfaatkan untuk mengendalikan jamur patogen di dalam tanah.
  • Sphaerellopsis, Untuk mengendalikan penyakit karat pada beberapa tanaman dan beberapa orang lainnya.
  • Trichoderma, Jamur Trichoderma harzianum
    dapat mengendalikan penyakit layu semai pada kacang buncis dan kol pada
    kondisi rumah kaca, tetapi hasilnya belum mantap untuk skala lapangan.
    Jamur Trichoderma hamatum dilaporkan juga dapat menghambat serangan
    jamur Rhizoctonia solani dan Phytium sp yang menyerang persemaian
    tanaman kapri dan lobak.
  • Verticillium sp, untuk mengendalikan penyakit bercak daun ( Hemiliea vastratrix ) pada tanaman kopi dan cacar daun teh ( Exobasidium vexans).
  • Dactylella, dapat mengendalikan nematoda parasit pada tanaman
  • Endothia, untuk mengendalikan penyakit karat pada tanaman kacang
  • Erwinia, dapat mengendalikan penyakit busuk pada tanaman, misalnya tanaman hias

Tabel : Beberapa contoh agen hayati yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit tanaman

Agen hayati

Kelompok bakteri

Patogen sasaran

Penyakit inang

Agrobacterium Radiobacter

Agrobacterium tumefaciens



Bacillus subtilis

Rizoctonia solani, Phytium .sp, Fusarium spp

Crown gall/Rose, Apel dan Pear

Pseudomonas cepacia

Fusarium spp, R.. solani

Rebah semai/Padi, Kapas dan Legum

P. fluorescens

F. oxysporum

Rebah semai/Kapas Jagung dan sayuran

Ralstonia solanacearum (strain avirulen)

Ralstonia solanacearum strain virulen

Layu dan rebah semai/sayuran

Phytium oligandrum

Fusarium, spp; Phytium spp, R. solani

Layu/ Tomat, kentang

Kelompok jamur

Fusarium, spp; Phytium spp, R. solani

Busuk akar/rebah semai, layu/sayuran

Trichoderma viridae

Heterobasidon annosum

Busuk akar/ layu/sayuran

Trichoderma harzianum

F. oxysporum f.sp. batatas

Busuk batang dan akar cemara

Peniophora gigentea

P. ultimum, R. solani

Layu fusarium/ubi jalar

F. oxysporum (non patogen)

P. ultimum

Rebah semai/sayuran

Gliocladium virens



Rebah semai/bet gula


Pertanian modern di seluruh dunia saat ini dibebani oleh berbagai
tuntutan mendesak untuk mengatasi berbagai kemelut dunia, selain
pertanian modern harus memenuhi kebutuhan pangan penduduk seluruh dunia,
sektor ini harus pula memenuhi tuntutan ekonomi sebagai penghasil
devisa. Karena itu berbagai kebijakan dibidang pertanian di negara
manapun selalu terkait erat dengan berbagai kebijakan di bidang politik
sesuatu negara, atau hubungannya dengan dunia intemasional. Sebagai
usaha untuk mengatasi tuntutan di atas telah menjadi satu keharusan
bahwa usaha pertanian harus memproduksi berbagai jenis hasilnya dalam
jumlah yang banyak yang melebihi kebutuhan dalam negeri sehingga dengan
demikian dapat berperan sebagai penghasil devisa untuk pembangunan
ekonomi dan politik negara. Karena itu pertanian modern selalu dicirikan
dengan penggunaan energi berupa pupuk dan pestisida.


Tidak
dapat disangkal lagi bahwa konsep penggunaan pupuk dan pestisida yang
telah diterapkan di pertanian modern telah menimbulkan berbagai efek
disamping seperti pencemaran lingkungan di pabrik-pabrik penghasil pupuk
dan pestisida maupun dilahan-lahan pertanian yang menggunakan bahan
kimia ini, biaya produksi yang semakin tinggi akibat mahalnya harga yang
harus ditebus petani untuk setiap kebutuhan pupuk dan pestisida
persatuan luas atau persatuan produksi dan kelergatungan negara,
pengguna kepada negara penghasil pupuk dan pestisida. Sehingga pertanian
modern sekarang dapat dicirikan sebagai usaha biaya tinggi. Sebuah
cita-cita yang menelan dirinya sendiri.



Masalah penggunaan pestisida tidak terbatas pada yang telah disebut di
atas, pestisida telah pula menyebabkan timbulnya strain hama dan
penyakit tumbuhan yang resisten terhadap bahan beracun ini, sehingga
setiap kali usaha pengendalian terhadap organisme pengganggu ini menemui
kegagalannya dan setiap kali itu pula mesti dihasilkan bahan kimia baru
yang memerlukan biaya penelitian yang sangat mahal baik secara ekonomi
maupun biaya pencemaran terhadap lingkungan yang tidak dapat dihitung
secara pasti. Masalah-masalah di atas dan masalah-masalah lain yang
telah ditimbulkan pertanian modern yang telah memasukkan energi tinggi
kesetiap satuan luas lahan telah mendorong pertanian modern untuk
menggali berbagai potensi alam terutama terhadap mikroba dan serangga
berguna bagi meningkatkan hasil pertanian. Berbagai penelitian telah
membuktikan bahwa banyak jenis mikroba sangat potensial sebagai
pengganti pupuk kimia dan pestisida yang dapat diaplikasikan kelapangan
dalam skala luas
(Whitehead, A. G. 1998).

Habitat Mikroba berguna dalam PHT


Iklim wilayah Indonesia yang tidak banyak berbeda sepanjang tahun
menjadikan negara kita satu diantara negara yang menyimpan keragaman
hayati yang sangat berharga dan perlu dikelola secara benar den efektif.
Sayangnya kesadaran akan hal ini justru muncul dari banyak pakar
keragaman hayati luar negri yang begitu prihatin terhadap pengelolaan
keragaman hayati di Indonesia. Salah satu yang perlu menjadi perhatian
kita adalah Mikroorganisme berguna yang akan kita manfaatkan secara
maksimal didalam sistem PHT.


Secara
keseluruhan habitat hidup mikroorganisme yang banyak berperan di dalam
pengendalian hayati adalah di dalam tanah disekitar akar tumbuhan
(rizosfir) atau di atas daun, balang, bunge, dan buah (fillosfir).
Mikroorganisme yang bisa hidup pada daerah rizosfir sangat sesuai
digunakan sebagai agen pengendalian hayati ini mengingat bahwa rizosfir
adalah daerah yang utama dimana akar tumbuhan terbuka terhadap serangan
patogen. Jika terdapat mikroorganisme antagonis padd deerah ini patogen
akan berhadapan selama menyebar dan menginfeksi akar. Keadaan ini
disebut hambatan alamiah mikroba dan jarang dijumpai, rnikroba antagonis
ini sangat potensial dikembangkan sebagai agen pengendalian hayati
(Weller 1988).


Dalam
pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya
melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan
secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan
penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu)
yang komponennya adalah sbb:


1.Mengusahakan
pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat
bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari
sejak awal pertanaman


2. Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami

3. Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

4. Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.

5.
Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang
sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi
tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran
hama dan penyakit potensial.


6.
Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah
lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman
yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini
hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang
diperoleh dari hasil pengamatan.


Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

a. Tembakau
(Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak
sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya
Aphids.


b.Piretrum
(Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat
digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat
yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat
rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.


c.Tuba
(Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone
untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan
semprotan.


d. Neem
tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang
bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga
penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung
daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk
menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.


e.Bengkuang
(Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu
pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.


f.
Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama
asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi
cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.


Peranan Pseudomonads fluorescens dalam pengendalian biologi


Bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah secara
alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae.
Bakteri ini berbentuk batang lurus atau lengkung, ukuran tiap sel
bakteri 0.5-0.1 1µm x 1.5-4.0 µm, tidak membentuk spora dan bereaksi
negatif terhadap pewarnaan Gram.


Pseudomonas
terbagi atas grup, diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor
(Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine (Brock &
Madigan 1988). Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai
pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa, P. fluorescent, P. putida, dan P. multivorans (Stanier et al 1965). Pseudomonas sp. telah diteliti sebagai agen pengendalian hayati penyakit tumbuhan (Hebbar et al. 1992; Weller 1983).


Diseluruh dunia perhatian kepada golongan bakteri Pseudomonas sp.
ini dimulai dari penelitian yang dilakukan di University of California,
Barkeley pada tahun 70-an. Burr et al (1978) dan Kloepper et al (1980)
mengatakan bahwa strain P.fluorescens dan P. putida yang
diaplikasikan pada umbi kentang telah menggalakkan pertumbuhan umbi
kentang. Schroroth dan Hancock (1982) mengatakan bahwa Pseudomonad pendarfluor
meningkatkan hasil panen umbi kentang 5-33%, gula beet 4-8 ton/ha. dan
menambah berat akar tumbuhan radish 60-144%. Strain ini dan
strain-strain yang sama dengannya disebut sebagai rizobakteri perangsang
per tumbuhan tanaman (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria, PGPR).
Sebutan sebagai rizobakteri pada bakteri Pseudomonas sp. sehubungan dengan kemampuannya mengkoloni disekitar akar dengan cepat (Schroroth & Hancock 1982).



Kloepper dan Schroth (1978) mengatakan bahwa kemampuan PGPR sebagai
agen pengendalian hayati adalah karena kemampuannya bersaing untuk
mendapatkan zat makanan, atau karena hasil-hasil metabolit seperti
siderofor, hidrogen sianida, antibiotik, atau enzim ekstraselluler yang
bersifat antagonis melawan patogen (Kloepper & Schroth. 1978;
Thomashow & Weller 1988; Weller 1988). Wei et al. (1991) mengatakan
bahwa perlakuan benih timun menggunakan strain PGPR menyebabkan
ketahanan sistemik terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan Colletotrichum arbiculare. Alstrorn (1991) menyebutkan aplikasi P.fluorescens strain S97 pada benih kacang telah menimbulkan ketahanan terhadap serangan penyakit hawar disebabkan P. syringe pv. phaseolicola. Maurhofer et al. (1994) mengatakan P. fluorescens strain CHAO menyebabkan ketahanan pada tumbuhan tembakau terhadap serangan virus nekrotik tembakau.


Baru-baru ini telah dibutikan bahwa Pseudomonas sp.
dapat menstimulir timbulnya ketahanan tanaman terhadap infeksi jamur
patogen akar, bakteri dan virus (Van Peer et al 1991; Wei et al. 1994;
Zhou et al. 1992; Alstrom 1991).Voisard et al (1989) mendapati bahwa
sianida yang dihasilkan P. fluorescens stroin CHAO merangsang pembentukan akar rambut pada tumbuhan tembakau dan menekan pertumbuhan Thielaviopsis basicola
penyebab penyakit busuk akar, diduga bahwa sianida mungkin penyebab
timbulnya ketahanan sistemik (ISR). Maurhofer et al (1994) mengatakan
bahwa siderofor pyoverdine dari P. fluorescens strain CHAO adalah sebab timbulnya ketahanan sistemik pada tumbuhan tembakau terhadap infeksi virus nekrosis tembakau.


Perlakuan bakteri pada benih tumbuhan lobak dan umbi kentang menggunakan P. fluorescens strain WCS374 menunjukkan pengaruh pertumbuhan yang nyata (Geels & Schippers 1983). Sedangkan P. putida
strain WCS374 telah meningkatkan pertumbuhan akar dan produksi umbi
kentang (Baker et al 1987; Geels & Schippers 1983). Leemon et al.
(1995) mengatakan bahwa siderofor dari P. fluoresces WCS374 dapat
berperan sebagai perangsang pertumbuhan tumbuhan dan menekan pertumbuhan
F. oxysporon f sp. raphani penyebab penyakit layu Fusarium
pada tumbuhan lobak. Hambatan terhadap penyakit layu Fusarium pada
tumbuhan carnationdiduga disebabkan persaingan terhadap unsur besi
(Duijff 1993).


Wei et al. (1991) mengatakan bahwa ketahanan sistemik akan terjadi pada timun terhadap infeksi Colletotrichum orbiculare setelah inokulasi benih timun dengan strain PGPR. Alstrom (1991) mengatakan bahwa perlakuan benih kacang dengan P. fluorescens strain S97 menyebabkan ketahanan sistemik terhadap infeksi Pseudomonas syringae pv. phaseolicola. Zhou et al. (1992) dan Zhou dan Paulitz (1994) mengntakan bahwa strain Pseudomonas sp. menyebabkan ketahanan sistemik tumbuhan timun terhadap Pythium aphanidetmatum.
Contoh-contoh PGPR yang mampu berperan sebagai agen penyebab ketahanan
sistemik tersebut di atas adalah karena perlakuan akar, tanah, atau biji
dengan rizobakteri.



Mekanisme kerja dari agen pengendalian hayati umumnya digolongkan
sebagai persaingan zat makanan, parasitisme, dan antibiosis (Fravel
1988; Weller 1988). Peranan antibiotik dalam pengendalian hayati telah
dikaji oleh Siminoff dan Gottlieb (1951). Penelitian mereka menunjukkan
bahwa kemampuan Streptomyces griseuspengeluar antibiotik streptomisin dan strain mutasi yang tidak menghasilkan antibiotik dalam menekan pertumbuhan Bacillus subtilis
temyata tidak berbeda tingkat antagonisnya, penelitian ini telah
membuat Siminoff dan Gottlieb (1951) berkesimpulan bahwa antibiotik
bukan satu-satunya penyebab timbulnya antagonis.



Kemajuan dalam rekayasa genetik telah membolehkan penelitian terhadap
mutan dijalankan dengan lebih akurat dan terperinci sehingga banyak
hipotesis tentang antibiotik telah dibuktikan, misalnya Pseudomonas fluorescens adalah agen pengendalian hayati penyakit take-all pada gandum yang disebabkan Gaeumannomyces graminis var. tritici. Bakteri ini terbukti menghasilkan antibiotik phenazin yang menekan pertumbuhan G. graminis dalam pengendalian hayati (Thornashow & Weller 1987; Thomashow et al. 1986; Weller et al. 1985).


Bakteri sebagai Agen penghasil Antibiotik




Antibiotik umumnya adalah senyawa organik dengan berat molekul rendah
yang dikeluarkan oleh mikroorganisrne. Pada kadar rendah, antibiotik
dapat merusak pertumbuhan atau aktivitas metabolit mikroorganisme lain
(Fravel 1988). Rose (1979) mengatakan bahwa pada tahun 1979 diperkirakan
telah dikenal 3000 jenis antibiotik dengan penambahan 50-100 jenis
antibiotik baru setiap tahunnya.


Hubungan antara akitivitas pengendalian hayati antibiotik secara in
vivo dengan aktifitas secara in vitro. Keluaran antibiotik chetomin
secara in vitro oleh Chaetomium globosum berkorelasi positif dengan antagonisnya terhadap Venturia inequalis pada bibit pohon apel (Cullen & Andrews 1984). Hal yang sama adalah adanya zona hambatan Agrobacterium radiobacter terhadap A. tumefaciens
secara in vitro dan kemampuannya sebagai agen pengendalian hayati di
lapang pada tanaman persik. Satu penelitian yang dilakukan oleh
Broadbent et al. (1971) telah rnenguji secara in vitro 3500
mikroorganisme sebagai agen antagonis, dari penelitian ini diperkirakan
40% mikroorganisme menekan pertumbuhan satu atau lebih patogen dan 4%
diantaranya berpotensi sebagai agen pengendalian hayati di tanah.



Broadbent et al (1971) berkesimpulan bahwa organisme yang menekan
pertumbuhan secara in vitro juga akan menekan pertumbuhan patogen di
tanah, mikroorganisme yang tidak menekan pertumbuhan secara in vitro
juga tidak menekan pertumbuhan dalam tanah. Namun perlu diketahui bahwa
pengeluaran antibiotik sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan
nutrisi mikroorganisme. Filtrasi medium pembiakan bebas sel atau ekstrak
dari filtrasi telah diuji kemungkinan peranannya sebagai antibiosis
dalam pengendalian hayati. Filtrasi bebas sel T. flavus efektif terhadap mikrosklerotium V. dahliae
pada tanah steril (Fravel et al 1987). Filtrasi dari medium pertumbuhan
mutan T. harzianum menekan pertumbuhan patogen busuk basah S. cepivorum (Papavizas et al. 1982). Manakala filtrasi steril dari kultur Bacillus subtilis
diaplikasikan tiga kali seminggu mengendalikan penyakit karat pada
tanaman kacang dilapangan nyata lebih baik dari fungisida mancozeb
dengan aplikasi satu kali seminggu (Baker et al. 1985).



Baru-baru ini satu penelitian tentang peranan antibiotik di dalam tanah
menunjukkan bahwa kebanyakan hasil metabolit seperti antibiotik terikat
pada tanah liat dan bahan organik tanah, atau terurai dengan cepat oleh
mikroflora. Kebanyakan antibiotik tidak dapat terlepas dari tanah liat
(Pinck et.al.1962). Howell dan Stipanovic (1979) telah mengidentifikasi
antibiotik pyrrolnitrin dari kultur P. fluorescens. Pada penetiannya, antibiotik ini sangat efektif menekan pertumbuhan Rhizoctonia solani,
patogen penyebab penyakit rebah kecambah pada anak tanaman kapas.
Antibiotik ini juga menekan pertumbuhan jamur lain yang berinteraksi
dengan penyakit rebah kecambah diantaranya Thielaviopsis basicola, Alternaria sp., Vertiicillium dahliae, dan beberapa jenis Fusarium,
bagaimanapun dikatakan bahwa antibiotik ini tidak berpengaruh terhadap
Pythium ultimum. Selanjutnya Howell dan Stipanovic (1979) mengatakan
bahwa perlakuan bakteri P. fluorescens pada tanah yang terkontaminasi R. solani
telah menambah ketahanan anak tanaman kapas terhadap patogen tersebut
30-79 persen, sedangkan perlakuan antibiotik pyrrolnitrin menambah
ketahanan 13-70 persen. Ini berarti bakteri P. fluorescens berpotensi sebagai agen pengendalian hayati penyakit tumbuhan.


Howell dan Stipanovic (1980) telah mengidentifikasi P. fluorecens strain Pf-5 yang antagonis terhadap Pythium ultimum. Dari kultur P. fluorescens
Pf-5 diisolasi antibiotik pyolutcorin (4,5-dichloro-1
H-pyrrol-2-yl-2,6-dihydrokxy-phenyl ketone). Antibiotik ini menekan
pertumbuhan P. ultimum tapi tidak berpengaruh terhadap R. solani. Perlakuan benih kapas langsung dengan kultur bakteri P. fluorerscens Pf-5 telah menambah ketahanan benih terhadap serangan P.ultimum
28-71 persen, sedangkan perlakuan benih dengan antibiotik pyoluteorin
meningkatkan ketahanan benih 33-65 persen. Kedua percobaan di atas
menunjukkan bahwa penggunaan langsung kultur bakteri P. fluorescen lebih efektif mengendalikan penyakit dibandingkan penggunaan antibiotiknya.


Bakteri sebagai Agen penghasil Siderofor




Siderofor adalah senyawa organik selain antibiotik yang dapat berperan
dalam pengendalian hayati penyakit tumbuhan. Siderofor diproduksi secara
ekstrasel, senyawa dengan berat molekul rendah dengan affinitas yang
sangat kuat terhadap besi (III). Kemampuan siderofor mengikat besi (III)
merupakan pesaing terhadap mikroorganisme lain, banyak bukti-bukti yang
menyatakan bahwa siderofor berperan aktif dalam menekan pertumbuhan
mikroorganisme patogen (Fravel 1988).



Selain peranannya sebagai agen pengangkutan besi (III), siderofor juga
aktif sebagai faktor pertumbuhan, dan beberapa diantaranya berpotensi
sebagai antibiotik (Neilands 1981). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa siderofor berpendarfluor kuning-kehijauan yang dihasilkan oleh Pseudomonad pendarfluor
disebut sebagai pseudobactin bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman
(Neilands & Leong 1986; Leong 1986). Pigmen pendarfluor
hijau-kekuningan larut dalam air, dikeluarkan oleh kebanyakan spesies Pseudomonas. Diantara spesies yang banyak diteliti sehubungan dengan pigmen ini adalah P. airuginosa, P. ovalis, P. mildenbergil, P. reptilivora, P. geniculata, P. calciprecipitans.
Pengenalan terhadap pigmen ini tidak susah, terutama jika bakteri
dikulturkan pada medium King’s B (KB). Ciri-ciri sebagai pengeluar
pigmen ini masih digunakan sebagai penanda taksonomi untuk identifikasi
bakteri ini yang disebut sebagai bakteri Pseudomonas pendarfluor (Meyer
et al. 1987).


Menurut Neilands dan Leong (1986) mungkin semua Pseudomonad pendarfluor
dapat menghasilkan siderofor sejenis pseudobaktin yang masing-masing
berbeda dalam hal jumlah dan susunan asam amino dalam rantai peptide. Pseudomonad pendarfluor
banyak diteliti sehubungan dengan kemampuan bakteri ini sebagai
perangsang pertumbuhan (Plant Growth Promoting Rhizobacteria=PGPR) dan
menekan serangan penyakitM yang disebabkan Fusarium oxysporum
dan penyakit akar yang disebabkan Gaeumannomyces graminis. Mekanisme
kerja PGPR diketahui sebagai senyawa yang berfungsi sebagai pemasok zat
makanan, bersifat antibiosis, atau sebagai hormon pertumbuhan, atau
penggabungan dari berbagai cara tersebut. Pseudomonad pendarfluor
yang diisolasi dari tanah yang secara alami menekan pertumbuhan
Fusarium juga menekan pertumbuhan Gaeumannomyces graminis var. tritici
penyebab penyakit take-all (Wong & Baker 1984), penelitiannya
membuktikan bahwa tidak hubungan antara hambatan antibiosis yang
dihasilkan bakteri secara in vitro di atas agar dan hambatannya terhadap
penyakit pada tanaman di dalam polibag.



Menurut Wong dan Baker (1984) hasil ini menunjukkan bahwa mekanisme
pengendalian patogen karena persaingan zat besi. Menurut Neilands dan
Leong (1986) jamur-jamur patogen tidak menunjukkan kemampuan
menghasilkan siderofor jenis yang sama dengan yang dihasilkan bakteri Pseudomonas sp. sehingga jamur patogen mengalami defisit unsur besi menyebabkan pertumbuhan patogen menjadi terhambat.


Mikroba sebagai agen biokontrol

Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain: Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago.

Peran mikroorganisme dalam kehidupan


Adapun peranan mikroorganisme dalam kehidupan yaitu Mikroorganisme
merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk,
2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk
melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat mengalami
pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya.
Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena
mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang
besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan
menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena
ukurannya yang kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim
yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan
tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang
diperlukan untuk perngolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan
makanan tersebut sudah ada. Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan
tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat
pembiakannya relative cepat (Semangun, H. 2001). Oleh karena
aktivitasnya tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam
kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.


Peranan yang Merugikan

1. Penyebab penyakit, baik pada manusia, hewan maupun tumbuhan

Misalnya: Strptococcus pneumoniae. penyebab pneumonia dan Corynebacterium diphtheriae penyebab dipteri.

2. Penyebab kebusukan makanan (spoilage)


Adanya kebusukan pada makanan dapat disebabkan oleh beberapa jenis
bakteri yang tumbuh dalam makanan tersebut. Beberapa di antara
mikroorganisme dapat mengubah rasa beserta aroma dari makanan sehingga
dianggap merupakan mikroorganisme pembusuk. Dalam pembusukan daging,
mikroorganisme yang menghasilkan enzim proteolitik mampu merombak
protein-protein. Pada proses pembusukan sayur dan buah, mikroorganisme
pektinolitik mampu merombak bahan-bahan yang mengandung pektin yang
terdapat pada dinding sel tumbuhan (Tarigan, 1988). Mikroorganisme
seperti bakteri, khamir (yeast) dan kapang (mould)
dapat menyebabkan perubahan yang tidak dikehendaki pada penampakan
visual, bau, tekstur atau rasa suatu makanan. Mikroorganisme ini
dikelompokkan berdasarkan tipe aktivitasnya, seperti proteolitik,
lipolitik, dll. Atau berdasarkan kebutuhan hidupnya seperti termofilik,
halofilik, dll.


Peranan yang Menguntungkan


Banyak yang menduga bahwa mikroorganisme membawa dampak yang merugikan
bagi kehidupan hewan, tumbuhan, dan manusia, misalnya pada bidang
mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme
yang patogen yang menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya
yang khas. Meskipun demikian, masih banyak manfaat yang dapat diambil
dari mikroorganisme-mikroorganisme tersebut.



Penggunaan mikroorganisme dapat diterapkan dalam berbagai bidang
kehidupan, seperti bidang pertanian, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa
manfaat yang dapat diambil antara lain sebagai berikut:


Bidang pertanian

Dalam bidang pertanian, mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan tanah melalui fiksasi N2,
siklus nutrien, dan peternakan hewan. Nitrogen bebas merupakan komponen
terbesar udara. Unsur ini hanya dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dalam
bentuk nitrat dan pengambilan khususnya melalui akar. Pembentukan nitrat
dari nitrogen ini dapat terjadi karena adanya mikroorganisme.
Penyusunan nitrat dilakukan secara bertahap oleh beberapa genus bakteri
secara sinergetik.


Kajian religi:

Surat Al.Furqaan: 2



Artinya: Yang kepunyaan-Nya kerajaan
langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada
sekutubagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala
sesuatu,dan Dia menetapkanukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.


Ayat 2 menerangkan wujud kekuasaan Allah
di langit dan di bumi. Dalam mengatur alam ini, Allah tidak memerlukan
bantuan dari siapa pun. Sebab itulah ayat ini menegaskan bahwa Allah
tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mengatur
kerajaan langit dan bumi. Bahkan, segala sesuatu yang ada di alam
semesta ini telah ditetapkan sistem dan hukumnya secara rapi, indah, dan
harmonis. Maksudnya, Allah telah menetapkan pola atau ukuran bagi
setiap makhluk-Nya. Dan semuanya berjalan menurut kapasitas dan
ukurannya masing-masing sehingga tidak terjadi benturan antara satu
dengan yang lain. Maka, dalam kehidupan kita dapat merasakan perjalanan
waktu dan musim berjalan secara sistematis; demikian juga bulan,
matahari, dan bintang gemintang senantiasa mengikuti sunnatullah
dengan penuh ketaatan. Semua sistem kehidupan di alam ini berjalan di
bawah pengawasan Allah. Ayat ini menyadarkan orang-orang kafir bahwa
jika ada tuhan selain Allah, maka akan terjadi disharmonis atau
ketidakteraturan dalam sistem kehidupan di alam ini. Karena, kalau tuhan
lebih dari satu, maka akan terjadi perbedaan pandangan dan kepentingan
dan akan berbeda pula kebijakannya. Maka, dalam surah al-Anbiya’ ayat 22
secara tegas Allah menyatakan: “Sandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, maka akan rusak semuanya …” Sebab itulah turunnya al-Qur’an, antara lain, untuk menjelaskan kepada manusia bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya
perlengkapan-perlengkapan danpersiapan-persiapan, sesuai dengan naluri,
sifat-sifat dan funfsinya masing-masing dalam hidup.



Surat An-Nur 45:



Artinya: Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan
dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas
perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang
lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang
dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.




Surat An-Nahl 12:



Artinya : Dan Dia menundukkan malam
dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
yang memahami (nya).


Allah telah menciptakan
berbagai macam makhluk hidup di bumi ini mulai dari yang bisa dilihat
dengan mata sampai yang kasat mata. Itu merupakan tanda-tanda kekuasaan
Allah. Misalnya saja bakteri Bacillus thuringiensis yang
merupakan makhluk hidup mikroskopis yang diciptakan oleh Allah yang
tidak hanya memberikan dampak negative yaitu menghasilkan racun bagi
serangga tetapi juga memberikan dampak positif yaitu kita dapat
mempelajarinya dalam rekayasa genetika.



Surat Al-Baqaroh 164:



Arinya :Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan
apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan
kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.


Kandungan yang terdapat diatas
menjelaskan bahwa bahwa semua jenis bakteri yang berasal
darimikrobiologi pertanian itu semua adalah ciptaan Allah Maha Kuasa.
Dan juga dari penggalan bukti ayat-ayat Al-quran tersebut telah jelas
bahwa kita sebagai orang yang beriman, yang yakin akan adanyasang Khalik
harus percaya bahwa seluruh makhluk baik di langit dan di bumi, baik
berukuran besarmaupun kecil, bahkan sampai mikroorganisme (jasad renik)
yang tidak dapat terlihat dengan matatelanjang adalah makhluk ciptaan
Allah SWT, sehingga dengan mengetahui dengan adanyamikrobiologi
lingkungan, pertanian maupun peternakan. Secara tidak langsung
pengetahuan tentangaqidah kitapun semakin bertambah. Sesungguhnya
manusia hanyalah sedikit pengetahuannya, jikadibandingkan dengan ilmu
Allah SWT yang maha luas dan tak terbatas.



Surat Az-Zumar 21:



Artinya : Apakah kamu tidak
memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka
diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya
dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi
kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya
hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.


Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa Allah SWT telah menciptakan
sesuatu yang ia inginkan dan apapun yang ia kehendaki atas makhluk –
makhluk yang ia ciptakan ia dapat menjadikannya bermakna dari masing
masing penciptaannya. Dalam proses penyuburan tanah ini terjadilah
makhluk mikroorganisme atau bakteri yang tidak kasat mata mampu mengubah
hal yang tak bermanfaat menjadi bermanfaat, yang mana tanah sangat
penting bagi kehidupan manusia, dalam bidang pertanian tanah berperan
sebagai lahan perkebunan, peternakan, perikanan, hortikultural.



Surat Thaahaa 6 :



Artinya : Kepunyaan-Nya-lah semua
yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya
dan semua yang di bawah tanah


Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa
Allah SWT menciptakan makhluk hidup bermacam-macam. Ada yang bisa
dilihat dengan mata telanjang dan ada pula yang hanya bisa dilihat
dengan alat bantu misalnya saja dengan mikroskop. Salah satu contoh
makhluk mikroskopis itu adalah mikroorganisme. Allah menciptakan makhluk
hidup tidak hanya merugikan tetapi juga menguntungkan. Contohnya
mikroorganisme yang dapat menyuburkan tanah. Itu semua merupakan
tanda-tanda kekuasaan Allah. Kita sebagai manusia wajib bersyukur atas
semua yang telah diberikan kepada kita dan kita diberikan ilmu untuk
mempelajari semua yang ada di bumi ini sehingga kita dapat menemukan
penemuan-penemuan baru yang kelak akan berguna untuk masa depan.



Bidang kesehatan

Salah satu manfaat
mikroorganisme dalam bidang kesehatan adalah dalam menghasilkan
antibiotika. Bahan antibiotik dibuat dengan bantuan fungi, aktinomiset,
dan bakteri lain. Antibiotik ini merupakan obat yang paling manjur untuk
memerangi infeksi oleh bakteri. Beberapa mikroba menghasilkan metabolit
sekunder, yang sangat bermanfaat sebagai obat untuk mengendalikan
berbagai penyakit infeksi. Sejak dulu dikenal jamur Penicillium yang
pertama kali ditemukan oleh Alexander fleming (1928), dapat menghasilkan
antibiotika penisilin. Sekarang banyak diproduksi berbagai antibiotik
dari berbagai jenis mikroba yang sangat berperan penting dalam mengobati
berbagai penyakit. Selain untuk antibiotik, dalam bidang kesehatan
mikrorganisme juga dapat digunakan sebagai agen pembusuk di dalam
saluran pencernaan alami, yang turut membantu mencerna makanan di dalam
saluran pencernaan.

Bidang lingkungan

Mikroorganisme ini banyak
dimanfaatkan untuk bahan bakar hayati (metanol dan etanol),
bioremediasi, dan pertambangan. Selain itu, mikroorganisme yang ada di
lingkungan berperan dalam perputaran/siklus materi dan energi terutama
dalam siklus biogeokimia dan berperan sebagai pengurai (dekomposer).
Mikroorganisme tanah berfungsi merubah senyawa kimia di dalam tanah,
terutama pengubahan senyawa organik yang mengandung karbon, nitrogen,
sulfu, dan fosfor menjadi senyawa anorganik dan bisa menjadi nutrien
bagi tumbuhan. Mikroorganisme pada lingkungan alami juga dapat digunakan
sebagai indikator baik buruknya kualitas lingkungan, baik perairan
ataupun terestrial.



KESIMPULAN



Pertanian modern sebagaimana
yang telah disaksikan hari ini ternyata gagal dalam memenuhi harapannya
sendiri terbukti dengan timbulnya berbagai kerusakan alam yang terjadi
akibat budidaya pertanian hal ini tentu terasa sangat ironis karena
seharusnya pertanian adalah satu-satunya usaha manusia yang paling akrab
dengan alam justru telah mencemari alam tempatnya berpijak dengan
menumpahkan berbagai bentuk bahan kimia sintetik berupa pupuk dan
pestisida. Aktibat penggunaan pupuk dan pestidia secara berlebihan ini
telah merusak keseimbangan hayati terbukti dengan munculnya resurjensi
hama dan patogen dan meningkatnya serangan hama dan patogen sekunder dan
menurunnya populasi serangga dan mikroorganisme antagonis yang berperan
sebagai agensia pengendalian hayati. Dengan kesadaran baru dibidang
pertanian yaitu dengan penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHI)
dengan cara memaksimalkan penerapan berbagai metode pengendalian hama
secara komprihensif dan mengurangi penggunaan pestisida.

Salah satu komponen PHI
teresebut adalah pengendalian hayati dengan memanfaatkan bakteri
antagonis. Berbagai penelitian tentang bakteri antagonis terbukti bahwa
beberapa jenis bakteri potensial digunakan sebagai agensia hayati.

Bakteri-bakteri antagonis ini
diantaranya selain dapat menghasilkan antibiotik dan siderofor jugn bisa
berperan sebagai kompetitor terhadap unsur hara bagi patogen tanaman,
Pemanfaatan bakteri-bakteri antagonis ini dimasa depan akan menjadi
salah satu pilihan bijak dalam usaha meningkatkan produksi pertanian
sekaligus menjaga kelestarian hayati untuk menunjang budidaya pertanian
berkelanjutan.



DAFTAR RUJUKAN




  • Baker, C.J., Stavely, J.R., & Mock. N. 1985. Biocontrol of bean rust by Bacillus subtilis under

field conditions. Plant Disease.


  • Budiyanto Mak, 2008. Hand Out dan Klasifikasi Mikroba. Malang : Universitas

Muhammadiyah Malang


  • Brock. T.D. & Madigan, M.T. 1988. Biology of microorganism. Prentice-Hall International

Edition.


  • Dwijoseputro, 1990. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
  • Fravel D.R, Kim, K.K. & Papavizas, G.C. 1987. Viability of microsclerotia of Verticillium

dahliae reduced by a metabolite produced by Talaromyces flavus. Phytopathology.


  • Hasanuddin. 2010. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1128/1/. Diakses 11 Januari

2011. Malang


  • Hebbar, K.P., Atkinson, D., Tucker, W. & Dart. P.J. 1992. Suppression of Fusarium

monilifonne by maize root-associated Pseudomonas cepacia. Soil Biol Biochem.


  • Howell. C.R. & Stipnnovic, R.D. 1980. Supression of Pyhillm ultimum induced dumping off of

cotton seedling by Pseudomonas fluorescens and its antibiotic, Pyoluteorin.

Phytopathology.


  • Kloepper, J.W., & Schroth, M.N. 1978. Plant growth-promoting rhizobacteria on radish. 879-

882. Dlm. Proc. 4th into Conf. Plant Pathogenic Bact. Gibert-Clarey,Tours, Franco.


  • Meyer, J.M., Halle, F., Hohnadel, D., Lemanceau, P. & Ratefiarivelo, H. 1987. Dlm.

Winkelmann, G., Helm, D., Neilands, J.B. Iron transfort in microbes, plant and animal.

189-205. VCH. W einheim.


  • Neilands, J.B. & Leong, S.A. 1986. Siderophores in relation to plant growth and disease. Ann.

Rev. Plant. Physiol. 37: 187-208.


  • Papavizas, G.C., Lewis, J.A., & Abd-EI Moity. T .H. 1982. Evaluation of new biotypes of

Trichoderma harzianum for tolerance to benomyl and enhanced biocontrol capabilities.

Phytopathology. 72: 126-132.


  • Pink, L.A., Holton, W.F., & Allison, F. 1961. Antibiotikin soils: I. Physiochemical studies of

antibiotics-clay complexes. Soil Sci.


  • Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Hama dan penyakit Tumbuhan. Gadjah mada University

Press. Yogyakarta


  • Suriawira U, 1995. Pangantar Mokrobiologi Umum. Bandung : Angkasa
  • Wei, G., Kloepper, J.W., & Tuzun, S. 1991, Induction of systemic resistance of cucuumber to

Colletotrichum orbiclilare by select strain of plant growth-promoting rhizobacteria.

Phytopathology.


  • Whitehead, A. G. 1998. Plant Nematode Control. CAB International. Cambridge

University Press. UK


  • Wong, P.T.W., & Baker, R. 1984. Suppression of wheat take-all and Ophiobolus patch by

fluorescent pseudomonads from a Fusarium-supressive soil. Soil , Biol. Bichem.


  • Anonimous, 2011. Nurafni. http://nurafni.com/2011/04/01/hama-dan-penyakit-tumbuhan/
  • http://wanuabone.blogspot.com/2011/06/management-konsep-integrasi.html
  • http://www.lestarimandiri.org/id/pestisida-organik/306-pengendalian-hama-dan-penyakit
Kembali Ke Atas Go down
 

PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA TUMBUHAN

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» Pasang comment Union pada commentar Blog mu
» Bunyi tik,tik,tik pada mesin di pagi hari.
» WTA >> cara pasang plat no di dalam windshield
» Fitur baru Readmore pada blogspot!

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FORUM UPP-ROHUL :: === KUMPULAN MATERI PERKULIAHAN === :: BIOLOGI :: Biologi Umum-